Tuesday, July 01, 2014

Kapan Anak Boleh Makan Junk Food?

Makanan tinggi kalori, lemak jenuh, kadar garam, dan gula yang tinggi sering diidentikkan dengan sebutan junk food. Ayam goreng, kentang goreng, pizza, dan berbagai makanan siap saji yang dijual bebas di pasaran masuk dalam kategori ini. Herannya, meskipun diklaim sebagai makanan yang kurang sehat, junk food cukup digandrungi oleh anak-anak.

Hasil penelitian dari Food For The Brain Foundation di Amerika Serikat menyimpulkan bahwa 44% anak-anak yang makan junk food setiap hari cenderung memiliki perilaku yang buruk, sementara anak-anak yang tidak makan junk food memiliki perilaku yang lebih baik. Data ini setidaknya memberikan imbauan kepada para Bunda: jangan izinkan anak untuk makan junk food terlalu sering.

Di sisi lain, pertanyaan yang mengemuka adalah "Kapan anak boleh makan junk food?" Sisca Soewitomo, pakar kuliner dan gizi anak, mengemukakan bahwa junk food tidak harus total dihilangkan dari menu makanan anak. Hanya saja, memang harus dibatasi. Menurutnya, satu minggu sekali adalah frekuensi yang paling aman. Meskipun begitu, tantangan lain yang dihadapi oleh Bunda adalah bagaimana menyajikan makanan sehari-hari dengan nutrisi sehat serta perlahan-lahan menggeser kebiasaan anak yang suka makan junk food. Ada tiga langkah sederhana bagi Bunda untuk mewujudkannya.

Makanan yang tidak kalah enak
Alasan utama anak makan junk food adalah rasanya yang enak. Karena itulah, apabila Bunda bisa juga menyajikan makanan yang enak, perhatian anak dapat teralihkan. Masaklah makanan yang lezat dan sehat dengan berbagai kreasi yang Bunda pikirkan. Tambahkan pula bumbu dan rempah alami agar rasa makanan semakin enak.

Mengganti, bukan menghilangkan
Sebagai contoh, apabila anak sangat suka makan burger atau pizza, Bunda bisa saja membuatkan mereka kedua menu ini dengan bahan-bahan yang lebih sehat. Misalnya, membuat burger dengan roti gandum ditambah sayuran. Prinsipnya, Bunda dapat menyelipkan makanan sehat di tengah makanan yang kurang sehat, namun disukai oleh anak.

Komunikasi adalah yang utama
Pada akhirnya, Bunda perlu memberikan penjelasan yang masuk akal kepada anak mengapa junk food bukanlah bagian dari gaya hidup sehat. Berikanlah pemahaman bahwa dengan mengurangi, bahkan menghindari, junk food, anak bisa terbebas dari risiko terkena berbagai penyakit. Melarang bukanlah alternatif yang bijak. Sebaliknya, mengajak anak untuk berpikir demi diri mereka sendiri adalah cara yang sangat efektif.

Illustrasi : Shutterstock.com
Inspirasi :
http://goo.gl/sudD2C
http://goo.gl/Jp9LAV